Selasa, 30 Agustus 2016

Penemuan Obat Virus Zika

Penemuan Obat Virus Zika

Emily Lee, Yichen Cheng dan Sarah Ogden
Peneliti dari Florida State University - Emily Lee, Yichen Cheng dan Sarah Ogden
Virus zika merupakan virus yang berasosiasi dengan nyamuk penyebab penyakit mikrosefali (pengecilan otak) pada bayi. Virus ini pertama kali diisolasi pada tahun 1947 dari spesies nyamuk macaque di pedalaman hutan Zika, Uganda. Beberapa tahun sejak pertama kali diisolasi virus ini belum menunjukkan penyebaran yang berarti hingga pada tahun 2014 terjadi kejadian luar biasa dimana ratusan anak di Brazil terlahir dengan tanda-tanda virus Zika. Tak butuh waktu lama WHO segera mengeluarkan peringatan ke seluruh dunia untuk mencegah penyebaran virus Zika.

Penyebaran virus zika dapat terjadi melalui gigitan nyamuk, transfusi darah, hubungan seksual, maupun dari ibu ke janinnya. Simpton (tanda) penyakit yang disebabkan oleh virus ini menyerupai penyakit yang disebabkan oleh arbovirus lain seperti virus dengue maupun virus cikungunya seperti mikrosefali, sindrom Guillain-Barre dan myelitis pada orang dewasa. Selain merusak otak (mikrosefali) pada bayi yang tidak dapat disembuhkan virus ini juga menarik perhatian dunia karena sampai saat ini obat untuk mengobati maupun mencegah penularannya belum ditemukan.

Sejak ditetapkan sebagai kejadian luar biasa oleh WHO tindakan cepat segera dilakukan untuk mengetahui patogenesis virus, nodel uji in vitro pada manusia, dan model uji in vivo pada hewan coba. Dari pengamatan virus yang diperoleh dari darah wanita hamil diketahui bahwa virus zika dapat menyebabkan mikrocepali karena menyerang sel hNPC (human neural progenitor cell) dimana sel inilah yang bertanggung jawab pada proses perkembangan korteks (kulit otak). Selain itu dari pemodelan seluler 3D pada sel otak ditemukan adanya pengecilan pada organid otak, hNPC dan selaput neuron. 

Pengembangan obat baru umumnya membutuhkan waktu yang cukup lama mulai dari explorasi, uji klinis, sampai disetujui oleh FDA namun untuk kejadian seperti virus yang dapat menyebar dalam waktu singkat dapat digunakan uji repurposing atau menguji obat lain yang tidak ada kaitannya dengan virus. Metode ini adalah jalan pintas yang dapat dilakukan untuk mendapatkan pengobatan yang cepat terhadap kasus infeksi virus yang luar biasa seperti pada kasus virus ebola, giardiasis, infeksi Entamoeba histolytica, gametosit malaria, virus hepatitis C, dan yang terbaru virus zika.

Penelitian terbaru dari Florida State Univerrsity, Johns Hopkins University, dan National Institute of Health akhirnya menemukan senyawa obat yang dapat menghambat replikasi virus zika dan mencegah kerusakan otak pada janin. Penelitian ini menggunakan 6000 senyawa obat (baik yang telah disetujui FDA maupun obat yang masih dalam tahap uji Farmakologi) kemudian diuji pada virus zika. Dari pengamatan patogenesis diketahui virus zika menyerang hNPC yang menyebabkan aktivitas caspase 3 sehingga pengujian obat difokuskan pada aktivitas caspase 3 dan kelangsungan hidup sel otak.  Dari pengujian ini diperoleh dua senyawa obat yang satu mampu menghambat perkembangan virus dan yang lainnya mampu melindungi sel dari kerusakan akibat virus.

Emricasan, Obat neoroprotector untuk virus zika

Emriasan adalah obat yang mencegah kematian sel melalui penghambatan pan-caspase dengan nilai IC50 0.13-.9 μM baik pada uji aktivitas caspase maupun uji ketahanan sel otak terhadap virus Zika strain MR766 (Strain yang diperoleh dari Uganda), FSS13025 (dari Kamboja), dan PRVABC59 (dari Puerto Rico). Dari pemberian emricasan diamati organoid otak tidak mengalami proliferasi oleh hNPC namun obat ini tidak mampu menghambat replikasi virus.

Obat Antiviral Virus Zika

Menentukan antivirus pada virus zika dilakukan berdasarkan penghambatan pada protein NS1 virus zika. Dari penelitian ditemukan 2 kandidat obat yang termasuk dalam kategori ini yaitu niclosamide (telah disetuji FDA sebagai obat anticacing pada manusia maupun pada lingkungan) dan PHA-690509 (Senyawa yang masih dalam tahap pengembangan - memiliki aktivitas inhibitor cyclin dependent kinase (CDKi)). Dari pengujian ditemukan bahwa kedua obat ini mampu menghambat replikasi virus 4 jam setelah pemberian dimana diketahui bahwa fase replikasi virus zika adalah 4-24 jam. Dari hasil ini diketahui bahwa kedua obat memiliki aktivitas menghambat replikasi RNA virus.

Dari penelitian ini diperoleh terobosan baru untuk mengobati virus zika yaitu kombinasi obat neuroprotector dan antivirus. Pemberian emricassan selama 3 hari diikuti pemberian niclosamide selama 2 hari menunjukkan hasil yang memuaskan dimana sel mengalami perbaikan dari infeksi virus zika.

Referensi
Miao Xu, Emily M Lee, Zhexing Wen, Yichen Cheng, Wei-Kai Huang, Xuyu Qian, Julia TCW, Jennifer Kouznetsova, Sarah C Ogden, Christy Hammack, Fadi Jacob, Ha Nam Nguyen, Misha Itkin, Catherine Hanna, Paul Shinn, Chase Allen, Samuel G Michael, Anton Simeonov, Wenwei Huang, Kimberly M Christian, Alison Goate, Kristen J Brennand, Ruili Huang, Menghang Xia, Guo-li Ming, Wei Zheng, Hongjun Song & Hengli Tang. Identification of small-molecule inhibitors of Zika virus infection and induced neural cell death via a drug repurposing screen. Nature Medicine, 2016 DOI: 10.1038/nm.4184
Penemuan Obat Virus Zika
4/ 5
Oleh

Berlangganan via email

Suka dengan postingan di atas? Silakan berlangganan postingan terbaru langsung via email.

Lihat Komentar

Untuk menyisipkan kode pendek, gunakan <i rel="code"> ... KODE ... </i>
Untuk menyisipkan kode panjang, gunakan <i rel="pre"> ... KODE ... </i>
Untuk menyisipkan gambar, gunakan <i rel="image"> ... URL GAMBAR ... </i>